



ada yang tak bisa diulangi, meskipun kau mendatanginya lagi berkali-kali, sungai kecil, ikan-ikan, layang-layang, kelereng, musim panen, musik damen, layar tancap di lapangan
hingga debus keliling di pasar malam. ada yang tak mau menoleh lagi, meskipun kau memanggilnya berkali-kali, rendi, dimas, wiwid, andi, roni, tarom, ahmadi, diana, susan, linda, cesi, dan semuanya saja tak lagi mengenal suaranya sendiri waktu di langgar dan mengaji, lalu duduk-duduk di pertigaan menunggu bis-bis dari kota mengantarkan orang-orang kembali
ketika akhirnya masing-masing dikenalkan pada mimpi
suara petasan di setiap pagi ramadhan
terdengar begitu sunyi
foto-foto yang membawaku ke masa kecil
Sabtu, 03 Mei 2008
Posted in: senggang | 0 Comments | Email This
kau, aku, dan lupa itu
Senin, 28 April 2008

1.
seperti telegram yang tiba di pagi hari
memberi tahu tanggal kau akan mati
seperti bel yang berbunyi
menghentikan kelas, waktu pelajaran
baru mulai kau mengerti
seperti dunia yang menghilang
saat kau membuka pintu
untuk terakhir kali
begitulah, saat kau dan lupa
bersepakat menghapusku
dari riuh hujan ini
2.
saat hari mulai petang
kita dua layanglayang
tersangkut di udara
mungkin putus salah satu benang
dan mungkin keduanya
dan anak anak ladang
yang menerbangkan kita
yang tak pernah kita tahu namanya
akan menangis dan berlari ke ibunya
sementara di atas maghrib
yang jatuh di pematang
di antara burungburung yang pergi pulang
dua layanglayang mengabur
ke arah ufuk
yang mulai menghitam
malamnya, anak kecil itu melihat
di langit belakang rumahnya
dua bintang berkedip
mengirim tanda
"lihatlah, ibu..
barangkali itu mereka"
"sudahlah, lupakan layang-layangmu,
nanti kita bikin yang baru"
kemudian ibunya mengajak tidur
dan menakutinya dengan dongeng
tentang seorang anak di jaman dahulu
yang dikutuk tidak bisa lupa
dan mengingat segalanya
3.
kita masih saja berbicara
memberi nama pada sepi
dan sebagainya
menyusun rute
dalam peta
yang katamu,
tak pernah ada
lihatlah telapak tanganku
kulihat telapak tanganmu
adakah garis yang bertemu
jalan kecil yang menyusur
ke dalam surgamu
sebab warna ini terlalu indah
dan membutakan mata
suatu nanti
aku bisa lupa untuk lupa
| 0 Comments | Email This
LAUT, MAUT, DAN DI ANTARANYA
Rabu, 23 April 2008
1
"maut itu singgah dengan rahasia
seperti surat yang diselipkan di bawah pintu, pagi-pagi sekali
sebelum kau sempat curiga
dan menebak dirimu sendiri
ia mengulurkan tangan padamu
'apa kabar?', suaranya bergetar
di kaca jendela
udara pun kabur di luar sana
bagai mimpimu, yang belum selesai
tertahan sebagai cemas di cermin itu
selebihnya sunyi, hinggap
di jam dinding yang mati
dan bayanganmu melarikan diri
selebihnya diamlah
sebab ia ibumu sendiri
yang memanggil-manggil nama kecilmu
dari hari ke hari"
Jogja, 2002
..................................................................
kau mengajakkku ke laut, ke maut, katamu
perahu-perahu yang pergi ke arah jauh
ke arah hilang
bersama lagu nelayan, di pantai yang memanjang
pertemuan dan perpisahan tak lagi berjarak
namamu namaku sebentar lagi tak berabjad
angin menghapusnya dari atas pasir
juga nama orang tua kita, anak anak kita
juga seluruh masalah yang tinggal di rumah
selama kita bergandengan tangan
menghadapi usia
.........................................
(masih akan kuteruskan)
Posted in: sajak | 0 Comments | Email This