0

LAUT, MAUT, DAN DI ANTARANYA

Rabu, 23 April 2008

1

"maut itu singgah dengan rahasia

seperti surat yang diselipkan di bawah pintu, pagi-pagi sekali
sebelum kau sempat curiga
dan menebak dirimu sendiri

ia mengulurkan tangan padamu
'apa kabar?', suaranya bergetar
di kaca jendela
udara pun kabur di luar sana
bagai mimpimu, yang belum selesai
tertahan sebagai cemas di cermin itu

selebihnya sunyi, hinggap
di jam dinding yang mati

dan bayanganmu melarikan diri

selebihnya diamlah
sebab ia ibumu sendiri
yang memanggil-manggil nama kecilmu
dari hari ke hari"

Jogja, 2002
..................................................................

kau mengajakkku ke laut, ke maut, katamu
perahu-perahu yang pergi ke arah jauh
ke arah hilang
bersama lagu nelayan, di pantai yang memanjang
pertemuan dan perpisahan tak lagi berjarak
namamu namaku sebentar lagi tak berabjad
angin menghapusnya dari atas pasir
juga nama orang tua kita, anak anak kita
juga seluruh masalah yang tinggal di rumah
selama kita bergandengan tangan
menghadapi usia

.........................................
(masih akan kuteruskan)










0

April 2008 : "aku berbenah dalam diriku"

Selasa, 22 April 2008

:D
"Tunggulah Barang sebentar, sebab kali ini
Kelihatannya Ia tidak sedang bergurau"
...............................................................................

"aku berbenah dalam diriku",
kata chairil
entah akan menghabiskan waktu berapa lama
masa berbenah ini
bukan berarti menyelesaikan semua perkara
tapi setidaknya bisa lebih bijaksana
menghadapinya

tanpa perlu lagi lari
atau menjadikannya melankoli

tanpa perlu lagi menyakiti
dan menyembunyikannya dalam puisi

jika ternyata, aku harus memintamu
untuk menamani, terimalah

sebab jika semuanya menjadi indah
aku bisa berjalan sendiri
dan nasib sudah bisa kubagi

juga hanya kau yang akan kudatangi

kupasrahkan semuanya
jalan hidupku
menjadi lelaki

............................

0

kita pernah begitu berwarna

Minggu, 20 April 2008

kau menyisir rambutku
supaya aku bisa menata pikiranku
kau seterika bajuku supaya
aku juga bisa merapikan hidupku
kau raih tanganku
supaya aku juga bisa menggenggam mimpiku

kau cium bibirku supaya aku bisa
mencium harumnya dunia
kau peluk tubuhku supaya aku bisa
mengasihi semua yang ada

kau mengajariku, bahwa dari dalam kamar
ternyata kita bisa mengerti banyak hal
walau bukan perkara besar semacam perang maupun tuhan, cuma kasih sayang
mengalir lewat jari, tapi abadi, seperti bayang bayang

tahulah aku, kita tak bisa saling kehilangan
meski kau utara aku selatan, memandang dari jauh
dan hidup berbeda ranjang